Promo Pena

8 Warisan Budaya Tak Benda Sultra Diusul ke Kemendikbud

PENASULTRA.ID, KENDARI – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) terus berupaya melestarikan warisan budaya tak benda di Sultra.

Terbukti, sejak 2019, Dikbud Sultra telah mengusulkan delapan warisan budaya tak benda ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk masuk dalam kategori warisan budaya tak benda nasional.

Namun, dari delapan usulan tersebut, baru satu yang dinilai layak untuk dipertimbangkan masuk kategori warisan budaya tak benda nasional, yakni kain tenun atau sarung tenun dari Desa Waturumbe, Kecamatan Mawasangka Tengah, kabupaten Buton Tengah (Buteng).

“Belum lama ini Direktorat Perlindungan Kebudayaan Kemendikbud konfirmasi untuk dilakukan sidang. Tadi ini penilaian terakhir, Kemendikbud menanyakan terkait keunikan dan apakah produksi kain Waturumbe masih ada hingga sekarang,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra Asrun Lio melalui rilis persnya, Kamis 8 Oktober 2020.

Menurutnya, alasan Kemendikbud memilih kain tenun Waturumbe sebagai warisan budaya tak benda karena memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri dibandingkan kain tenun lainnya.

Ciri khas tersebut yakni umumnya bercorak atau bermotif kupu kupu dan bunga serta proses tenunan dilakukan turun temurun atau dari generasi ke generasi yang dilakukan wanita.

“Di kecamatan Mawasangka ini disebut dengan Kauta Kamohu itu bahasa pancana. Cirinya atau coraknya lain dan dianggap unik, karena memiliki motif kupu kupu dan bunga,” beber Asrun Lio.

Selain itu, kain tenun ini sudah ada lebih dari abad 19 lalu sesuai dengan salah satu syarat yang ditetapkan Kemendikbud, dimana dapat dikategorikan warisan budaya tak benda apabila warisan budaya tersebut sudah ada sejak 50 tahun.

“Bahkan Belanda saja dalam tulisannya menyebutkan yang bisa diperdagangkan selain rempah-rempah itu adalah tenun.
Berarti sudah ada sejak dulu,” tegas Asrun Lio.

Ia mengaku, jika kain tenun Waturumbe ditetapkan sebagai warisan tak benda nasional, maka Sultra akan menjadi rujukan jika berbicara soal tenun.

“Jadi kedepan Sultra punya khas tenunan. Kalau disebut tenunan, berarti rujukannya Sultra. Karena nanti
ditetapkan sebagai warisan budaya secara nasional,” tutup Asrun Lio.

Untuk diketahui, dari delapan warisan budaya tak benda yang diusulkan, tarian Mondotambe dan Moronene masuk dalam usulan tersebut.

Penulis: Yeni Marinda

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.